Starlink, Proyek Internet Satelit Elon Musk
Di era yang sudah serba digital ini semua orang yang ada di belahan bumi manapun pasti membutuhkan yang namanya koneksi internet agar selalu terhubung dengan dunia luar, terlebih untuk saat – saat sekarang ini yang mana hampir semua orang melakukan kegiatannya di dalam rumah. Mulai dari belajar, bekerja, dan juga berolahraga semua dilakukan dari rumah. Tidak bisa dipungkiri bahwa internet saat ini sudah menjadi salah satu kebutuhan pokok yang ada di kehidupan sehari – hari. Dari permasalahan inilah perusahaan besar yang didirikan oleh Tony Stark di dunia nyata yaitu Elon Musk menciptakan suatu gagasan yang kontroversial di dunia dengan meluncurkan proyek raksasa Starlink.
Saking ambisiusnya proyek ini, Starlink digadang – gadang merupakan masa depan koneksi internet yang ada di dunia. Bagaimana tidak, bayangkan saja saat di tengah hutan maupun samudra yang sangat luas kita bisa mengakses internet dengan kecepatan yang lumayan tinggi untuk zaman sekarang sekitar 100 mbps. Hal ini merupakan impian semua orang, yang dulunya kita di rumah saja terkadang kesusahan untuk mendapatkan koneksi internet yang stabil. Tentu saja dengan pengorbanan dana yang sangat besar.
Starlink adalah proyek ambisius Elon Musk untuk
menyelimuti Bumi dengan jaringan internet. Melalui SpaceX, proyek ini membangun
jaringan internet yang saling terhubung dengan ribuan satelit yang dikenal di
industri luar angkasa sebagai konstelasi. SpaceX diketahui memiliki dan
mengoperasikan konstelasi satelit internet Starlink. Konstelasi ini
terdiri dari ribuan satelit kecil yang berfungsi mirip menara operator seluler
di orbit rendah Bumi. Mengingat geografis wilayah Indonesia, maka peran
teknologi satelit sangat dibutuhkan untuk dapat mengakselerasi pemerataan
konektivitas digital hingga ke pelosok nusantara.
Starlink menyediakan akses Internet satelit ke
sebagian besar Bumi. Konstelasi terdiri dari lebih dari 1600 satelit pada
pertengahan 2021, dan pada akhirnya akan terdiri dari ribuan satelit kecil yang
diproduksi secara massal di orbit Bumi rendah (LEO), yang berkomunikasi dengan
transceiver darat yang ditunjuk. Sementara kemungkinan teknis layanan internet
satelit mencakup sebagian besar populasi global, layanan sebenarnya hanya dapat
diberikan di negara-negara yang telah melisensikan SpaceX untuk menyediakan
layanan dalam yurisdiksi nasional tertentu. Mulai September 2021, penawaran
layanan beta tersedia di 17 negara.
Rencananya layanan Starlink ini akan tersedia secara global. Saat ini layanan Starlink baru tersedia di Amerika dan Canada. Dibalik banyaknya sisi positif dari proyek ini ada beberapa sisi negatif yang dapat diciptakan oleh layanan starlink ini, beberapa ahli khawatir jika nantinya Starlink akan memonopoli pasar dan akan menaruh harga yang sangat tinggi untuk layanannya ini, belum lagi faktor keamanan dan privasi yang sudah pasti akan semakin transparan. Namun dibalik hal itu starlink merupakan salah satu ide revolusioner yang akhirnya terealisasikan yang akan memajukan peradaban umat manusia kedepannya, diharapkan Starlink ini merupakan titik cerah bagi para peneliti yang ada di luar sana agar tetap terhubung meskipun mereka sedang berada di kutub utara sekalipun.
Pengerjaan Starlink dimulai pada tahun 2014 ketika
SpaceX mengajukan aplikasi ITU melalui regulator telekomunikasi Norwegia dengan
nama STEAM. SpaceX mengonfirmasi koneksi dalam aplikasi 2016 untuk melisensikan
Starlink dengan FCC. Fasilitas pengembangan satelit SpaceX, Redmond,
Washington, digunakan dari 2015 hingga pertengahan 2018. Jaringan satelit
komunikasi yang dibayangkan SpaceX diumumkan secara publik pada Januari 2015,
dengan bandwidth untuk membawa hingga 50% dari semua lalu lintas komunikasi
backhaul, dan hingga 10% dari lalu lintas Internet lokal, di kota-kota dengan
kepadatan tinggi. CEO Elon Musk mengatakan bahwa ada permintaan signifikan yang
belum terpenuhi untuk kemampuan broadband global berbiaya rendah.
Pada bulan Oktober 2016, SpaceX telah mengembangkan satelit awal yang mereka harapkan untuk diluncurkan dan diuji pada tahun 2017, tetapi divisi satelit berfokus pada tantangan bisnis yang signifikan untuk mencapai desain yang cukup berbiaya rendah untuk peralatan pengguna, yang bertujuan untuk sesuatu yang seolah-olah dapat dipasang dengan mudah di tempat pengguna akhir dengan harga sekitar US$200. Secara keseluruhan, Presiden SpaceX Gwynne Shotwell saat itu mengatakan bahwa proyek tersebut tetap dalam fase desain karena perusahaan berupaya mengatasi masalah yang berkaitan dengan biaya terminal pengguna. Penyebaran konstelasi tidak kemudian diproyeksikan sampai akhir dekade ini atau awal berikutnya.
Pada 14 September 2021, SpaceX telah meluncurkan 1.740 satelit Starlink, termasuk satelit demo Tintin A dan B. Mereka berencana untuk meluncurkan hingga 60 lebih per penerbangan Falcon 9, dengan peluncuran sesering setiap dua minggu pada tahun 2021.
DAFTAR PUSTAKA
Komentar
Posting Komentar